Langsung ke konten utama

Kerupuk usaha


Hari itu hari minggu, aku pergi keluar ksatriaan untuk membeli keperluanku. Mentari bersinar terik, 1 jam yang lalu kepalaku masih beradu dengan sinar mentari. Dengan sigap aku mengganti pakaian dinas jaga ku ke pakaian pesiar, pakaian favoritku, pakaian dinas harian (PDH). Meskipun panas rasanya mengenakannya, lebih nyaman pake pdl, pikirku.
Dengan langkah mantap aku berjalan menyusuri aspal panas ksatriaan dengan beberapa orang rekanku. Kami bernyanyi riang, sambil sesekali aku melaksanakan penghormatan. Setelah keluar, aku langsung mencari supir taksi online yang sudah sejak di dalam ksatriaan tadi aku pesan. Panasnya mentari tak kenal ampun menghantam kulit hitamku. Memang aku sudah biasa digoreng mentari seperti ini. Tapi tentu aku tidak nyaman karena seragam kebanggaanku. Rupanya supir tersebut sudah menunggu. Segera dengan cepat aku menghampirinya. Saat membuka pintu, tiba tiba seorang ibu tua mencegahku. Ia mengenakan baju hitam, dengan kerudungnya yang lusuh yang juga berwarna senada. Roknya ialah jarik atau kain batik yang dililitkan ketubuhnya yang kecil. Sambil mengenakan sendal jepit biru dan kaus kaki hitam ia menggendong sebuah keranjang yang diikat dengan selendang di punggungnya. Usianya mungkin cukup tua, namun aku tidak dapat melihat kegentaran di dalam matanya.
“Mas, mas, 4000 saja mas.” Sambil menyodorkan krupuk 1 bungkus.
Aku tidak dapat menolaknya melihat usahanya yang seperti itu. Kukeluarkan dompetku yang tak kukira memang tinggal 5000 rupiah saja. Taksi online yang kupesan sudah dibayar menggunakan uang aplikasi.
“Ini bu..” kuserahkan uang tersebut.
“12000 dapat 3 mas” ia menaruh 3 bungkus di kursi depan mobil taksi.
Aku tak sanggup menolaknya, namun karena tak punya uang, langsung kukembalikan 2 bungkus lainnya.
“1 saja bu, maaf”
Ibu itu lalu menerimanya lalu berlalu. Akupun menutup pintu taksi melihatnya dari balik kaca.
Peristiwa tersebut hanya terjadi beberapa detik sebelum aku masuk ke dalam taksi. Namun, begitu dahsyatnya menghantam hatiku sampai aku menuliskan cerita ini. Betapa Tuhan telah memberikan rahmat yang melimpah di dalam hidupku. Betapa bagusnya pakaianku, betapa terawatnya kulitku, walaupun aku tidak mudah juga untuk mendapatkannya. Namun, apa yang dialami ibu itu masih sangat jauh berbeda denganku. Diusianya yang terbilang sudah tua, Ia masih berjuang demi sesuap nasi. Sedangkan aku, bisa dengan gratis menyantap apa yang diberikan negara kepadaku.
Terimakasih Tuhan, atas rahmatmu.

Komentar